Prediksi Insufisiensi Adrenal Relatif  pada Renjatan Sepsis Menggunakan Sitokin IL-6, TNF-alfa dan MIF | ethicaldigest

Prediksi Insufisiensi Adrenal Relatif  pada Renjatan Sepsis Menggunakan Sitokin IL-6, TNF-alfa dan MIF

Sepsis merupakan disfungi organ yang mengancam kehidupan. Kondisi ini disebabkan disregulasi imun terhadap infeksi. Menurut Dr. dr. Bina Akura, SpA, hingga saat ini renjatan sepsis dan sepsis berat masih merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas pada anak yang dirawat di unit perawatan pediatrik intensif (50-60%). Walau sudah terdapat kemajuan perawatan intensif, renjatan sepsis masih merupakan penyebab tingginya angka kematian.

Insiden renjatan sepsis dan sepsis berat meningkat dalam 30-40 tahun terakhir. Angka kejadian sepsis berat di Amerika Serikat 0,56 kasus /100 populasi /tahun. Insiden paling tinggi pada kelompok usia bayi (5,16 kasus/1000 populasi / tahun) dan menurun dengan tajam pada kelompok usia 10-14 tahun (0,2 kasus /1000 populasi /tahun). “Lebih dari 4.300 kematian pertahun atau sekitar 7% dari total kemataian pada anak, disebabkan sepsis berat,” paparnya.

Insiden insufisisensi adrenal relatif (IAR) pada pasien kritis termasuk sepsis berat dan renjatan sepsis, dilaporkan bervariasi antara 15-61%. Tergantung dari populasi penelitian serta kriteria diagnosis yang digunakan.

Lebih lanjut sitokin merupakan elemen penting  dalam respon inflamasi, yang terdapat pada sepsis dan renjatan sepsis. Sitokin berfungsi memediasi respon imun/ metabolik terhadap stimulus eksternal dan transisisi disfungsi organ multiple. Sitokin-titokin khususnya interleukin-6 (IL-6) dan interleukin-1 (IL-1), dapat memengaruhi aktivitas jaras hipotalamus  hipofisis adrenal (HHA). Interleukin-6 dapat menstimulasi sekresi kortisol, dengan memengaruhi komponen jaras HHA. Sedangkan TNF-alfa serta macrophage migration inhibitory factor (MIF), berperan dalam menghambat pembentukan kortisol.

Untuk mengetahui lebih lanjut peran IL-1, IL-6 TNF-alfa dan MIF dalam terjadinya IAR pada renjatan sepsis, Dr. Bina melakukan penelitian. Penelitain eksperimental dilakukan di laboratorium FKH IPB dalam 6 bulan (April – September 2015). Model anak babi yang digunakan dalam penelilitain ini berumur 6-8 minggu dengan berat 5-10 kg. Pemilihan sampel dengan consecutive sampling dengan total n = 20. Anak babi diberi infus endoktoksin dengan dosis 50 ug/ kg BB. Sampel darah untuk analisis IL-1, IL-6, TNF-alfa, MIF, adrenocorticotropic hormone (ACTH), kortisol, 17 OHP, dehidroepiandrostenedione sulfate (DHEA), androstenedion, diambil sebelum pemberian endotoksin dan tiap 15 menit, hingga terjadi renjatan sepsis. Kemudian dilakukan uji synacthen. Pemeriksaan imunohistokimia dilakukan pada kelenjar adrenal, hipofisis dan hipotalamus.

Dari 19 anak babi yang dianalisis, semua mengalami renjatan sepsis dalam 60 menit. Karakteristik sampel tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok. Kadar IL-6 pada kelompok IAR dibanding kelompok tanpa IAR, berbeda bermakna pada menit ke-45, 0,65 (0,5 – 4,32) pg/dL vs 0,54 (0,51-0,61) pg/dL dengan p = 0,008.

Kadar IL-1 antara kelompok IAR dibanding kelompok tanpa IAR, tidak berbeda bermakna. Kadar TNF-alfa pada kelompok IAR dibanding kelompok tanpa IAR, berbeda bermakna pada menit ke-15, 1862,5 (327,9 – 4511,14) pg/dL vs 155,38 (24,67 – 394,10) pg/dL, dengan p = 0,002. Dan pada menit ke-30 4295,76 (246,9 – 5913,37) pg/dL vs 422,90 (101,05 – 4129,42) pg/dL, dengan p= 0,007.

Kadar MIF kelompok IAR dibanding kelompok tanpa IAR, berbeda bermakna pada saat renjatan sepsis 25,28 (18,45 – 30,64) ng/dL vs 11,30 (7,1 – 15,14) ng/dL, dengan p= 0,003. Pemeriksaan imunohistokimia hanya pada hipotalamus, yang menunjukkan perwarnaan terhadap IL-1, IL-6, TNF-alfa dan MIF pada kelompok dengan IAR.

Pada renjatan sepsis dan insufisiensi adrenal relatif kadar TNF-alfa meningkat, pada menit-menit awal. Kemudian kadar IL-6 meningkat dan terakhir kadar MIF meningkat pada saat renjatan sepsis. Dengan kadar IL-1 tidak terdapat perbedaan pada kedua kelompok.

Atas penelitiannya ini, Dr. dr. Bina Akura SpA, memperoleh gelar Doktor Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia, 5 Januari 2017, dengan yudisium A.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.