Kesulitan Mengenali Depresi pada Lansia | ethicaldigest

Kesulitan Mengenali Depresi pada Lansia

Depresi pada orang lanjut usia (lansia) lebih sulit dideteksi. Pertama karena penyakit fisik yang diderita sering mengacaukan gambaran depresi, yaitu mudah lelah dan penurunan berat badan. Kedua, usia lanjut sering menutupi rasa sedihnya dengan lebih aktif. Ketiga, kecemasan, histeria dan hipokondria, yang merupakan gejala depresi sering menutupi depresinya dan  masalah sosial sering membuat depresi menjadi lebih rumit.

Masalah yang terkait depresi pada lansia, tidak bisa dikenali baik di pelayanan kesehatan primer dan sekunder karena banyaknya pendapat kalau depresi atau gangguan suasana perasaan pada lansia, adalah sesuatu yang wajar karena proses penuaan.

Penelitian yang dimuat di Jurnal Canadian Psychiatry, Vol49, Suppl 1, March 2004 menyatakan bahwa pasien gangguan depresi pada lansia, bisa dideteksi oleh dokter di pelayanan primer tidak lebih dari 51%. Padahal, prevalensi gangguan depresi lansia di pelayanan primer mencapai 4,4% pada wanita dan 2,7% pada laki-laki.

Hal lain yang menjadi masalah dalam diagnosis adalah adanya anggapan dari dokter, pasien dan keluarga pasien bahwa gejala depresi normal pada usia lanjut. Selain itu, gambaran depresi pada usia lanjut berbeda dari pasien muda (dalam kriteria ICD 10 maupun DSM IV). Di sisi lain, orang usia lanjut sering telah menggunakan polifarmasi dan memiliki komorbiditas.

Istilah komorbiditas digunakan untuk menyatakan adanya dua atau lebih penyakit pasien, pada saat yang sama. Pada pasien usia lanjut sering ditemukan dua atau lebih penyakit fisik (ada multipatologi). Tidak jarang dijumpai kelainan fisik bersamaan (komorbiditas) dengan gangguan psikis seperti depresi.

Diagnosis depresi yang menyertai atau bersama-sama dengan penyakit fisik tidak mudah, karena tampilan klinisnya sering tidak sesuai dengan kriteria diagnosis dalam DSM IV maupun PPDGJ III. Depresi pada geriatri sering menonjolkan gejala somatiknya, dibandingkan gejala depresinya.

“Pada usia lanjut, gejala depresi sering tidak khas. Beberapa karakteristiknya antara lain sedih/murung hingga kurang terlihat. Keluhan dominan adalah hipokondriasis, keluhan subyektif gangguan memori, apatis dan kehilangan motivasi, ansietas dan agitas,” terang dr. Suryo Dharmono, Sp.KJ, dari Departemen Psikiatri FKUI/RSCM.

Pada pasien geriatrik, kondisi multipatologi sering menyulitkan pengenalan depresi. Gejala-gejala yang ditimbulkan penyakit fisik, sering tumpang tindih dengan hipokondriasis. Komorbiditas demensia dan depresi sering ditemukan khususnya pada stadium awal dimensia. Sementara, pada usia lanjut dengan gangguan iskemik pada otak, dikenal suatu kondisi yang disebut depresi vaskuler, dengan gejala yang menonjol apati dan gangguan kognitif.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.