Manfaat Platelet Rich Plasma | ethicaldigest

Manfaat Platelet Rich Plasma

Sebuah studi tahun 2013, yang dilakukan sebuah Rumah Sakit Khusus Bedah di Amerika Serikat, memunjukkan bahwa platelet rich plasma (PRP) memberi manfaat yang bagi pasien osteoartritis lutut. Kemudian, penelitian tersebut dipublikasikan dalam Journal of Sport Medicine.

Salah satu akibat osteoartritis terutama pada sendi lutut, adalah timbulnya rasa nyeri dan hilangnya fungsi gerak. “Kedua keluhan tersebut, setelah diberikan PRP, hilang. Bahkan sebanyak 73% pastisipan tertunda perkembangan osteoartritisnya,” ujar dr. Brian Halpern, Kepala Peneliti.

Dalam kesempatan berbeda, dr. Ade Sri Wahyuni, SpRM, mengatakan dalam manajemen pasien osteoartritis beberapa cara dapat dilakukan. Dimulai dengan penurunan berat badan, penggunaan penyangga lutut, olahraga, pemberian obat-obatan NSAID, Tylenol dan pemberian viscosuplemen atau pelumas sendi. “Saat ini, pemberian platelet rich plasma (PRP) terbukti memberi harapan yang baik,” jelasnya. Suntikan PRP di sendi lutut, dapat memperbaiki kerusakan jaringan dan menggurangi bahkan menghilangkan gejala osteoartritis lutut, seperti nyeri dan peradangan.

Plasma sebagian besar berisi air tetapi juga terdapat kandungan protein, nutrisi, glukosa dan antibodi. Platelet rich plasma atau plasma kaya trombosit, berasal dari sampel darah pasien sendiri. Seperti sel-sel darah merah dan putih, trombosit, adalah komponen normal dalam darah. Trombosit sendiri tidak memiliki sifat restoratif atau penyembuhan, namun mengeluarkan zat yang disebut faktor pertumbuhan dan protein lain yang mengatur pembelahan sel dan merangsang regenerasi jaringan, sehingga dapat membantu penyembuhan. PRP mengandung trombosit dengan konsentrasi yang lebih tinggi daripada trombosit dalam darah normal.

Cara paling umum untuk mempersiapkan PRP adalah dengan sentrifugasi sampel darah pasien. Komposisi PRP dapat bervariasi, tergantung komposisi darah pasien. Selain itu, dokter yang berbeda memiliki pendekatan berbeda untuk merumuskan dan menyiapkan PRP untuk injeksi. Jadi, kekurangan injeksi PRP ini adalah belum adanya pedoman konsisten penggunaan injeksi dalam mengobati osteoartritis.

Satu studi yang diterbitkan tahun 2013, melibatkan 78 pasien osteoartritis di kedua lutut (156 lutut). Setiap lutut menerima satu dari tiga perlakuan. Kelompok pertama menerima 1 suntikan PRP, kelompok kedua mendapat 2 suntikan PRP, kelompok ketiga mendapat 1 suntikan plasebo salin. Hasil pengobatan dievaluasi 6 minggu, 3 bulan, dan 6 bulan setelah suntikan. Hasil penelitian: pada lutut yang diberi 1 atau 2 suntikan PRP, ada pengurangan rasa sakit dan kekakuan serta perbaikan fungsi lutut pada 6 minggu dan 3 bulan setelah terapi. Sedangkan pada kelompok suntikan plasebo, terdapat sedikit peningkatan rasa sakit serta kekakuan dan penurunan fungsi lutut.

Studi lain yang lebih kecil meneliti pasien nyeri lutut ringan, selama rata-rata 14 bulan. Setiap lutut yang mengalami gangguan, menjalani MRI untuk evaluasi kerusakan sendi dan kemudian menerima suntikan PRP tunggal. Lutut pasien dinilai pada 1 minggu, 3 bulan, 6 bulan, dan 1 tahun setelah terapi. Setiap lutut menjalani MRI kedua setelah atu tahun. Hasil penelitian: satu tahun setelah menerima suntikan PRP, rasa sakit berkurang dibanding yang dirasakan di tahun sebelumnya (meskipun nyeri tidak selalu menghilang). Dan hasil MRI menunjukkan proses degeneratif tidak berkembang di mayoritas lutut.

Sebuah review sistematik yang dipublikasikan tahun 2013 menyimpulkan, dibanding dengan suntikan hyaluronic acid dan natural saline, suntikan PRP memiliki keuntungan untuk mengobati pasien dengan osteoartritis derajat ringan hingga sedang, dalam 6 bulan terapi.

Terdapat beberapa alasan, mengapa pasien osteoartritis perlu mempertimbangkan beberapa keuntungan terapi suntikan PRP. Di antaranya adalah terapi fisik dan/ atau penurunan berat badan yang dapat mengurangi keluhan, tetapi tidak selalu menghilangkan gejala. Suntikan kortikosteroid terbukti mengurangi nyeri osteoartritis, tetapi suntikan berulang bisa melemahkan ligamen dan tendon. “Benar memang, terapi obat anti-inflamasi (OAINS) seperti aspirin dan ibuprofen, dapat mengurangi rasa sakit. Namun penggunaan jangka panjang dapat memperburuk masalah gastrointestinal, tekanan darah dan masalah jantung,” ujarnya.

Dibandingkan dengan operasi penggantian sendi yang merupakan operasi besar, yang membutuhkan rehabilitasi jangka panjang, suntikan PRP bisa menjadi pilihan. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih dalam mengenai terapi PRP untuk osteoartritis ini.

Leave a comment

Filtered HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <blockquote> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.